PASURUAN, titiksatu.com – Seleksi atlet berkuda yang digelar Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kabupaten Pasuruan untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 kini jadi sorotan tajam. Proses seleksi tersebut dituding tidak transparan, penuh kejanggalan, bahkan diwarnai dugaan manipulasi.
Kecurigaan utama muncul terkait siapa saja yang akhirnya melenggang ke Porprov. Mirisnya, ada kuda yang sudah lolos seleksi namun tak diikutkan, sementara kuda lain yang tidak pernah menjalani seleksi justru dikabarkan bakal tampil.
Muslim, salah satu peserta seleksi, tak bisa menahan kekecewaannya. Ia mengendus ada indikasi ketidakadilan dalam proses yang dijalankan Pordasi Kabupaten Pasuruan. “Mengapa atlet dibatasi usia maksimal 23 tahun dan hanya boleh menunggangi tiga kuda?” gugatnya.
Ia mempertanyakan logika di balik batasan usia ini, mengingat olahraga berkuda adalah cabang yang mahal dan Kabupaten Pasuruan justru kekurangan atlet muda. Muslimin merasa aturan ini mengorbankan para owner kuda. “Sementara, kuda yang lolos seleksi terpaksa tidak bisa tampil, tapi kuda yang tidak ikut seleksi malah akan berlaga di Porprov Jatim 2025,” keluhnya, dengan nada heran.
Ketua Pordasi Kabupaten Pasuruan, H. Arifin, menjelaskan bahwa batasan usia atlet maksimal 23 tahun itu bukan kebijakan Pordasi, melainkan ketentuan baku dari KONI untuk ajang Porprov. Soal polemik kuda, H. Arifin menegaskan bahwa seleksi yang melibatkan 36 kuda itu berdasarkan kesepakatan internal Pordasi demi menjaga keadilan.
Ia juga menegaskan bahwa tidak semua kuda bisa berlaga di pacuan. Terutama di kelas A hingga F, kuda harus memiliki Buku Registrasi Kuda (BRK) yang berisi identifikasi genetik dan karakteristik kuda.
“Punya Pak Muslim kuda kelas E, tidak ada BRK-nya. Kalaupun masuk, tidak bisa lari,” tegas Arifin.
Ia juga memberi penjelasan khusus mengenai kuda bernama Petrus di kelas G, yang kabarnya tetap akan di turunkan meskipun tidak ikut seleksi. Arifin beralasan, Petrus punya rekam jejak yang mentereng di berbagai event di Jawa Timur dan belum pernah kalah. Bahkan, di Kejuaraan Nasional Jawa Tengah, Petrus berhasil menjadi runner-up.
“Saat seleksi kemarin kakinya bengkak. Jadi, semua peserta sudah ada sepakat secara otomatis tetap masuk dengan rekornya selama ini,” bebernya. (mo/rif)













