Home / Hukum & Kriminal

Rabu, 11 Februari 2026 - 17:12 WIB

Ogah Terima Maaf Terdakwa, Korban Penyerobotan Tanah Minta Keadilan

PASURUAN, TitikSatu.com – Persidangan dugaan penyerobotan lahan seluas 4.800 meter persegi di Pengadilan Negeri (PN) Pasuruan kian memanas. Dalam agenda pembuktian yang digelar pada sidang keempat, saksi korban dihadirkan untuk membeberkan kronologi penguasaan tanah yang disebut dilakukan terdakwa secara melawan hukum sejak beberapa tahun terakhir.

Di hadapan majelis hakim, saksi korban, Sampuna, menceritakan panjangnya proses hukum yang ia tempuh. Laporan yang diajukan sejak 2021 baru bisa bergulir hingga meja hijau pada awal 2026. Ia mengaku harus bersabar menanti kepastian hukum.

Baca Juga  Babak Baru Sengketa Sardo: "Novum" di Bagasi Mobil Berujung Laporan Polda Jatim

“Harapan saya, majelis hakim bisa memutus perkara ini seadil-adilnya. Laporan saya masuk tahun 2021, baru disidangkan sekarang,” ujar Sampuna di ruang sidang.

Dalam persidangan, korban menunjukkan sertifikat hak milik asli sebagai bukti kepemilikan sah atas lahan tersebut. Tak hanya itu, sejumlah foto kondisi terkini lahan turut diajukan sebagai alat bukti. Dalam keterangannya, lahan yang disengketakan disebut masih digarap oleh terdakwa untuk ditanami padi dan kedelai, meski statusnya tengah berperkara.

Baca Juga  Tergiur Motor Murah, Ternyata Barang Curian, Lelaki Ini Diamankan

Suasana sidang sempat menghangat ketika terungkap bahwa terdakwa pernah menyampaikan keinginan untuk mengembalikan lahan serta meminta maaf. Namun, tawaran damai itu ditolak korban.

Sampuna mengaku kerugian yang ia rasakan tidak hanya bersifat materiil, tetapi juga imateriil. Ia bahkan menyebut rumahnya sempat dibongkar pada 2022, yang menurutnya berkaitan dengan konflik lahan tersebut.

“Kalau soal maaf, saya belum bisa. Kerugiannya bukan hanya tanah, rumah saya juga pernah dibongkar,” ucapnya dengan nada kecewa.

Baca Juga  Bandel! Beroperasi di Bulan Suci, Kafe di Purwosari Disegel

Kuasa hukum korban menegaskan, perkara ini didakwakan dengan Pasal 385 KUHP tentang penyerobotan tanah, yang ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara. Ia menyebut, inti perkara adalah pembuktian hak atas tanah.

“Ini murni soal kepemilikan. Di persidangan sudah ditunjukkan sertifikat asli atas nama korban,” tegas pendamping korban, Ridwan Opu. (mo/rif)

Share :

Baca Juga

Hukum & Kriminal

Kejari Bidik Tersangka Kasus Pungli PTSL Wonosari Tutur

Hukum & Kriminal

Kades di Pasuruan Ditangkap Polisi, Gelapkan 3 Mobil Rental Demi Penuhi Gaya Hidup

Hukum & Kriminal

Cleopatra Cantik Asal Sukorejo Ini Berakhir Tragis, Usai Cari Cuan dengan Cara Telanjang di Media Sosial

Hukum & Kriminal

Temannya Meninggal, Bos Tambang Asal Bulusari Ini Masuk Tahanan Sendirian

Hukum & Kriminal

Sewa Vila, Perangkat Desa di Lekok ini Malah Dipenjara. Penyebabnya, Bikin Ngelus Dada

Berita

Pungli Pedagang Masjid Cheng Hoo Pandaan, Sulit Dihukum. Polisi Beberkan Alasannya.

Berita

Gudang Oplosan LPG Digerebek Mabes, Polres Pasuruan Mengaku Belum Tahu

Hukum & Kriminal

Korupsi Dana Hibah, Kepala PKBM Kejayan Dituntut 7,5 Tahun Penjara