Home / Ekonomi

Kamis, 12 Februari 2026 - 12:08 WIB

21 Persen Keluarga di Pasuruan Dipegang Perempuan, DPRD Dorong Pemberdayaan

PASURUAN, TitikSatu.com– Angka perempuan kepala keluarga (Pekka) di Kabupaten Pasuruan tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Sebanyak 126.102 perempuan kini menjadi tulang punggung keluarga. Artinya, satu dari lima rumah tangga dipimpin perempuan.

Fenomena ini mendapat perhatian Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto. Politisi Fraksi Golkar tersebut memilih turun langsung merespons realitas sosial tersebut dengan pendekatan pemberdayaan ekonomi.

Ia memulai langkah konkret melalui program bantuan alat usaha bagi Pekka. Bukan gerobak biasa, sarana usaha itu dirancang dari pemanfaatan limbah industri yang diolah kembali menjadi gerobak layak pakai.

Baca Juga  Pemkab Pasuruan Gulirkan Koperasi Merah Putih Genjot Ekonomi Desa

“Kita melihat sektor UMKM ini potensinya besar. Problem klasik Pekka itu soal modal dan fasilitas. Maka kami bantu gerobak agar mereka bisa langsung bergerak tanpa memikirkan tempat usaha,” kata Sugiarto.

Gerakan ini memang masih terbatas. Namun respons masyarakat disebut cukup tinggi. Permintaan terus berdatangan, terutama dari kalangan Pekka yang ingin memulai usaha kecil seperti jualan makanan atau minuman.

Sugiarto menilai konsep daur ulang limbah menjadi aset produktif adalah solusi realistis di tengah keterbatasan fiskal daerah. Selain ramah lingkungan, biayanya relatif lebih hemat. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa inisiatif personal tidak cukup. Perlu dukungan kebijakan yang sistematis dari pemerintah daerah.

Baca Juga  Kerap Jadi Jujukan Demo, PIER Dinilai Tak Lagi Nyaman untuk Berinvestasi

“Bansos itu penting, tapi jangan berhenti di situ. Pelatihan, pendampingan, hingga penguatan anggaran untuk ekonomi keluarga harus diperbesar,” tegasnya.

Menurutnya, Pekka sejatinya kelompok tangguh. Mereka hanya membutuhkan ruang dan dorongan agar bisa mandiri secara ekonomi. Di sisi lain, Sugiarto juga menyoroti beban sosial yang kerap menyertai status perempuan kepala keluarga. Stigma negatif masih kerap melekat di sebagian masyarakat.

“Tekanan sosial itu nyata. Ada yang dipandang sebelah mata hanya karena statusnya. Maka negara dan seluruh elemen, termasuk PKK dan swasta, harus hadir memberi jaminan kesetaraan kesempatan,” ujarnya.

Baca Juga  Diversi Gagal, Santri Pembakar Juniornya Batal Bebas Lebih Awal

Ia mengusulkan agar pemerintah daerah membuka komunikasi lebih intensif dengan sektor industri. Kabupaten Pasuruan yang dikenal sebagai kawasan industri dinilai memiliki peluang besar menyerap tenaga kerja perempuan dengan skema yang lebih fleksibel.

“Harus ada keberpihakan. Pemda bisa bernegosiasi dengan pabrik-pabrik, koperasi seperti Koperasi Merah Putih, hingga program SPPG atau Makan Bergizi Gratis. Pekka harus diprioritaskan di bidang yang memungkinkan,” tandasnya. (mo/rif)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Pekan Wirausaha, 200 Korban PHK Dilatih Jadi Wirausahawan Baru

Ekonomi

Satgas Pangan Polres Pasuruan “Pasang Mata”, Penimbun Sembako Siap-siap Disikat

Ekonomi

Miris, Kantor PDAM Kabupaten Pasuruan Dianggap Tak Layak. Butuh Pembangunan

Ekonomi

Listrik Gratis Bagi Petani, PLN Dongkrak Swasembada Pangan di Pasuruan

Ekonomi

Bangun Stand Sedap Malam, Disperindag Siapkan Rp 150 Juta

Ekonomi

Daging Glonggongan Beredar di Pasuruan, Pembeli Perlu Teliti

Ekonomi

Gandeng Pelindo, Warga Binaan Rutan Bangil Kini Bisa Belajar Komputer hingga Barista

Ekonomi

Prihatin Minyak Goreng Tinggi, Ini Cara Ketua Dewan Menyikapi. Asli, Bikin Kagum!