TINJAU : Kasi Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Agus Kariyanto meninjau proyek asrama putri yang anggarannya bukan dari Pemprov Jatim
BANGIL, titiksatu.com – Pembangunan asrama putri di SMAN 1 Bangil menyita perhatian banyak kalangan. Pasalnya, anggaran dalam pembangunan proyek tersebut, tidak jelas sumbernya.
Bahkan, pihak Dispendik Provinsi Jatim, tidak tahu menahu pembangunan tersebut. Apakah berarti kecolongan?
Salah satu alumni SMAN 1 Bangil atau SMANBA, Mukhlis mengaku dibuat heran dengan adanya proyek tersebut. Ia menjadi bertanya-tanya, dari manakah anggaran untuk pembangunan asrama untuk SMAN 1 Taruna Madani tersebut.
Pertanyaannya itu, bukan tanpa alasan. Hal yang sangat ketara, tidak adanya papan nama proyek. Padahal, pembangunannya dilakukan di atas lahan pemerintah.
“Kalau menggunakan anggaran pemerintah, harusnya ada papan namanya. Supaya, kami bisa tahu sumber anggarannya dari provinsi kah atau dari mana, serta besaran anggaran yang digunakan. Kalau tidak ada, ini patut dipertanyakan,” ungkapnya.
Ia pun menduga, pembangunan tersebut dilakukan tidak seperti semestinya. Layaknya gedung yang dibangun pemerintah, harusnya ada lelang dalam pelaksanaannya.
“Perencanaannya pun harus jelas. Tidak ujuk-ujuk dibangun,” tandasnya.
Mukhlis pun khawatir, proyek itu ada indikasi deal-dealan antara pihak sekolah dengan pelaksana. Ujungnya, siswa yang menjadi korbannya. Yakni dengan penarikan biaya nantinya.
Kasi Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, Agus Kariyanto mengaku, tak tahu adanya pembangunan gedung asrama di SMANBA. Karena, proyek yang sedang akan dibangun, masih proses lelang. “Kami tidak tahu soal gedung yang dibangun saat ini. Karena proyek tersebut, bukan milik kami,” akunya.
Sementara itu, Andurrohman, salah satu komite sekolah meyakinkan, proyek gedung tersebut bakal diperuntukkan sebagai asrama putri Taruna Madani. Pembangunan tersebut dilakukan, lantaran gedung asrama putri belum tersedia. Berbeda dengan putra, yang akan ditempatkan di aula.
Pembangunan gedung asrama itu, merupakan bantuan atau sumbangan dari seseorang yang tidak mengikat. “Ini bantuan dari pihak ketiga. Tidak ada keterikatan. Diberikan secara gratis,” ungkapnya.
Sontak, hal itu membuat sejumlah alumni bereaksi. Sebab, di jaman seperti sekarang masih ada orang yang mau memberikan gratis. Mereka menilai, hal itu sangat mustahil. “Gratis ya. Beneran gratis,” sindir sejumlah alumni. (and/rif)













